Kamis, 12 Maret 2015

Disitu Sering Saya Merasa Sedih




ketika mata ini lebih sering tergunakan untuk melihat yang haram daripada merenung-mentafakkuri kebesaran-Nya. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika telinga ini lebih banyak mendengar musik dari pada lantunan ayat Al-Quran, ghibah daripada sirah, dan curhatan gadis daripada hadist. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika mulut ini lebih banyak berkata tak baik daripada yang baik, lebih sering memvonis-fitnah daripada ceramah-dakwah. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika tangan ini lebih lincah melakukan maksiat, tetapi teramat kaku dalam memerangi kezhaliman. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika kaki ini lebih cepat melangkah ketempat hiburan, tetapi lambat bahkan berat saat dilangkahkan menuju Masjid untuk shalat. Disitu, sering saya merasa sedih.

ketika hati ini lebih sering bernagan-angan tentang kemegahan dunia, daripada bersyukur atas apa yang telah ada. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika persangkaan orang lain terhadap diri ini terlampaui baik daripada siapa diri ini sebenarnya. Disitu, sering saya merasa sedih

Ketika hati ini merasa besar saat dipuji orang lain, ujub dan berbangga diri; terlupa bahwasanya semua adalah kehendak Allah. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika mengaku ummat Nabi, mengaku cinta Nabi, tetapi diri ini kepayahan dalam elaksanakan sunnahnya. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika berkata, “aku selalu berbaik sangka kepada Allah” tetapi sering merasa tak terima saat kehendak-Nya tak sesuai rencana. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika suatu waktu, harta lebih kupentingkan daripada Allah dan Rasul-Nya. Disitu, sering saya merasa sedih.

Ketika teringat, bahwa banyak nikmat-Nya ku dustakan, daripada aku syukuri. Disitu, sering saya merasa sedih.

#kajianislam #nasihat #nikmat #syukur #DiSituKadangSayaMerasaSedih By @hijabsyarie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar