Senin, 21 Desember 2015
Kalau benar-benar Cinta Ikuti Jejak nya !
banyak sekali ketika kita browsing tentang sejarah asal muasal perayaan maulid nabi. tapi saya akan mengambil salah satu sumber saja dari https://www.islampos.com/berdasarkan-pendapat-ahli-sejarah-ini-awal-mula-perayaan-maulid-nabi-155751/
BULAN Rabiul Awwal merupakan bulan di mana nabi yang paling agung, nabi yang membawa risalah terakhir dilahirkan. Hampir sebagian umat Islam khususnya di Indonesia merayakan hari lahirnya sang pembawa cahaya, yang mengeluarkan umatnya dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang.
Kebanyakan umat Islam merayakannya sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa cinta yang begitu besar kepada Nabi SAW. Namun, yang perlu kita ketahui pernahkah generasi awal merayakan maulid nabi. Yang sudah tentu kita tahu, bahwa generasi awal (salafussholeh) adalah generasi yang paling dekat dengan Nabi SAW. Dan mereka yang paling tahu apa yang diingikan Nabi SAW. Karena meraka selalu hidup berdampingan dengan nabi sepanjang hayatnya.
Oleh karena itu, kita dituntut untuk tahu sejarah awal mula dirayakannya maulid Nabi SAW. Karena sesuatu perkerjaan yang tidak didasarkan atas ilmu maka akan sia sia. Sebagaimana Rasullah bersabda:
“من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد”
“Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak,” (HR. Muslim).
Ada beberapa pendapat tentang asal mula maulid Nabi SAW. Pendapat pertama mengatakan bahwa Sholahuddin Al Ayubi yang pertama kali memulai perayaan maulid karena melihat kondisi muslimin pada waktu itu semakin jauh dengan sunah-sunah Rasullah SAW. Sedangkan para tentara salibis setiap saat siap untuk menyerang pasukan muslimin dalam sekali hantaman. Dan dengan ijtihad beliau mengadakan maulid Nabi SAW agar menumbuhkan sunah-sunah yang mulai memudar dari tubuh muslimin dan semangat juang dalam menegakkan kalimatullah.
Sedangkan pendapat kedua para ahli sejarah seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan Shalahuddin al-Ayyubi.
Sebagaimana yang ditulis oleh ibn Khallikan dalam kitabnya Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, beliau mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi.
Imam Suyuthi dalam kitabnya Husn Al-Maqosid fi Amal Al-Maulid menerangkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan maulid Nabi adalah Sultan Al-Muzhaffar, penguasa dari negeri Irbil yang terkenal loyal dan berdedikasi tinggi. Mudzorofah pernah menghadiahkan sepuluh ribu dinar kepada Syekh Abu Al-Khatib Ibnu Dihyah yang telah berhasil menyusun sebuah buku riwayat hidup dan risalah Rasulullah dengan judul At-Tanwir fi Maulid Al-Basyir Al-Nazir.
Pada masa Abbasiyah, sekitar abad kedua belas masehi, perayaan maulid Nabi dilaksanakan secara resmi yang dibiayai dan difasilitasi oleh khalifah dengan mengundang penguasa lokal. Acara itu diisi dengan puji-pujian dan uraian maulid Nabi, serta dilangsungkan dengan pawai akbar mengelilingi kota diiringi pasukan berkuda dan angkatan bersenjata.
Sedangkan pendapat yang ketiga para ahli sejarah seperti Al Maqriziy serta mufti mesir Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy dan juga Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh mengatakan bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid Nabi SAW adalah Firqoh sesat Syiah Ubaidiyyun pada dinasti fatimiyah sebagaimana yang beliau tuliskan pada kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’.
Dari beberapa pendapat kita dapat menyimpulkan bahwa perayaan maulid tidak dilaksanakan di masa Rasulullah dan sahabatnya. Tidak juga di masa tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya. Dan sebaliknya bahwa perayaan maulid baru dimulai pada masa mamalik (kerajaan) sekitar abad ke-7 Hijriyah di saat firqoh-firqoh sesat subur berkembang di masa itu. Wallahu a’lam.
stop
pertanyaan : bagaimana jika kita dimintai sumbangan untuk maulid nabi ?
sebuah pertanyaan terlontar ketika saya hadir dalam majelis ilmu. berikut jawabannya :
Rasulullah Shallallahu' Alaihi Wa Salam bersabda "janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa Bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang Aku) 'Abdullah (Hamba Allah) dan Rasulnya." HR Bukhori
jadi bukan masalah besar uang nya jika hanya diminta sumbangan, tetapi ini bertentangan dengan akidah. umat terdahulu tidak pernah merayakan hari lahir Nabi Muhammad Shalallau'alaihi Wa Salam. jika ini perbuatan baik, maka para sahabat, para tabi'in, tabi'un tabi'in pasti sudah lebih dulu berlomba-lomba melaksanakannya. akan tetapi jika tidak ada contohnya, maka ini termasuk bid'ah. Menyumbang masjid utk acara bid'ah tdk boleh krn termasuk tolong menolong dlm kemungkaran. Adapun membantu masjid yg sifatnya umum maka tdk apa2, Rasul صلى الله عليه وسلم bersabda 'barangsiapa yg membangun masjid krn اَللّهُ سبحانه وتعالى maka اَللّهُ سبحانه وتعالى akan membangunkan baginya rumah di Surga. maka cara yg bijak untuk menghadapinya katakan lah "ini saya ada infaq utk pembangunan masjid saja. karna saya lebih menyukai pahala membangun masjid" kholas :)
sungguh banyak tradisi di indonesia ini yg menyerupai kaum kafir. contoh :
hari natal (hari lahir Isa bin Maryam) - maulid nabi (hari lahir nabi Muhammad)
hari kenaikan Isa Al Masih - Hari Isra Miraj (diangkatnya Nabi Muhammad ke langit ke 7)
tahun baru masehi - tahun baru hijriah
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”(HR Abu Dawud)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar